Postingan

[J;01] Perihal kata ‘pertama’ dan mendebarkannya

Gambar
Pada hidup seorang manusia, dibutuhkan beberapa bagian dimana hari terasa begitu mendebarkan. Sehingga manusia bisa merasakan ada beberapa bagian yang ikut yang hidup di dalam dirinya. Seperti halnya dengan kata pertama yang bagi beberapa manusia akan terasa mendebarkan. Gadis itu baru tiba di tempat kerja barunya dengan dada yang bergemuruh sejak awal. Ini adalah hari pertamanya. Maka kata mendebarkan terasa melekat erat pada nadinya. Hal yang pertama dilihat adalah sosok pemuda yang terlihat bisa mengangkat beban dunia di pundaknya tanpa mengeluh. Sosoknya besar, tegap, dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara terlalu serius atau sekadar malas berurusan dengan dunia. duduk di meja pojok dekat jendela, mengetik tanpa ragu seolah waktu tunduk padanya, punggungnya membungkuk sedikit, jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang tak terputus. Di sampingnya, segelas kopi dalam gelas kertas telah lama kehilangan uapnya—menjadi dingin seperti pagi yang enggan terburu-buru. Gadi...

Kata dari Anak Pertama

Gambar
Kalau kita punya waktu sedikit saja untuk berbicara mengenai hangat dan kasih milik Bara pada keluarga, maka aku akan memulainya dengan ketuk pelan daun pintu kala malam. Bara dan kepulangannya yang bisa dihitung dengan jari di tangan kanan sebab tuntutan pekerjaan. Alih-alih mengeluh dan menyalahkan keadaan, pemuda itu memilih memanfaatkan waktu dan apapun yang bisa dibawa pulang, termasuk ketenangan dan hati-hati agar tidak satupun bangun dari peristirahatan. Saat pagi menyapa, Bara hanya akan jadi anak bunda, sibuk disuguhi makanan-makanan yang menggugah selera-yang tidak ditemunya selama hidup seorang saja. Bara akan mendengar semua petuah yang dipegangnya, juga menerima harap dan cita yang ditaruh di pundaknya. Anak pertama bunda harus jadi hebat ya, anak sulung ayah harus bisa buat bangga. Abang harus jadi contoh buat adik-adiknya. Meskipun ada beberapa kesempatan Bara mengambil sikap menyebalkan, Kasihnya tak putus untuk yang tersayang. Putar balik saja memori saat Bara menjaga...

Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.

Gambar
  Aku mungkin sudah pernah bercerita tentang Bara dan hangatnya. Orang-orang melihat Bara sebagai peramai suasana, pembawa ceria untuk orang disekitarnya. Bara banyak disenangi sebab ramahnya. Tapi Bara juga manusia. Cukup manusia untuk merasa sedih, lelah dan membutuhkan rehat Barang sehari saja. Sayangnya, Bara bukan tipikal orang yang mudah mengekspresikan kesedihannya. Beberapa orang juga begitu. Tidak sanggup memperlihatkan lemahnya pada dunia, hanya ingin orang tahu bahwa ia baik-baik saja. Malam itu, Bara menelponku, suaranya bergetar meski masih sempat tertawa-tawa. “Kamu dimana?” tanyanya dari seberang. “Dirumah, kenapa?” “Bisa ketemu?” “Bisa, mau dimana?” “Oke sebentar, aku jemput ya.” Sepuluh menit setelahnya, Bara datang dengan Rosi- motor kesayangannya, izin kepada ibu dan abah sebelum mengajakku berkeliling entah kemana. Dan segera, aku berada di boncengan Bara, tidak bertanya apa-apa sebab Bara juga tidak mengeluarkan suaranya. Malam itu, aku tahu ada dua kondisi di...

Paru-paru Dalam Saku

Gambar

Empat Rangkum Petang—Pagi.

Gambar
  Empat Rangkum Petang—Pagi 1.       Baru semalam aku percaya; bahwa setiap kita memiliki porsinya. Bahwa mengejar yang 'lain' akan luar biasa lelahnya. Hanya saja— aku kembali meragukan porsi yang dibagi sama rata. Sebab yang berbeda semakin terasing dan hanya sebagian yang dielukan banyak orang. Dinamika yang terjadi sebatas manusia 'pilihan' makin terang adanya, sedang aku mulai hilang lalu dilupa.   2.       Baru semalam aku percaya; Sebab kala melihat matahari dan bulan mengedar dalam orbitnya kepala sudah berkata mereka datang di waktu berbeda, bercahaya sebagaimana adanya . Dan sebut saja benda langit lainya; meteor, komet, bintang, dan planet lainnya, bergerak pada garis yang mereka punya, melaju pada posisi tidak ada dua— sebab mereka tidak bisa digantikan siapa-siapa .   3.       Baru semalam aku percaya; Sebuah kereta, Pesawat, angkutan umum, mobil, bahkan sebuah sepeda me...

AKU [juga] Ingin Jadi Seperti tanah.

Gambar
" Aku mau jadi tanah!"             Aku menengok kanan dan kiri, aman, tidak ada orang, sebab kalau orang lain dengar ia bisa bisa di ledek "hah? Mau jadi tanah? Apa istimewanya hamparan luas yang terinjak dan teronggok?" . Maka selanjutnya aku merendahkan diri mengikuti tubuh sang mudi.             "Kenapa tanah?" Tanyaku pada akhirnya. Sang gadis cilik bergeming. Barangkali menimang alasan dirinya ingin menjadi tanah. Maksudku kan, kalau mau jadi hebat, masih ada langit dan gunung yang jelas jadi imajinasi 'hebat' paling depan.                     "Dia kuat dipijak milyaran manusia, dia kokoh dan nggak pernah mengeluh, hebat."             Sesuai dugaan, sepertinya aku harus senang sebab masih diberi sudut pandang polos kekanak-kanakkan. Baru ingin ku tanya m...

Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.

Gambar
 Maka, kujawab dengan sederhana.             Jika Pekalongan berwujud manusia, maka mungkin ia adalah yang paling banyak diam dibanding Jakarta yang jadi pusat semesta. Dia biasa saja, tak seistimewa Yogyakarta, dan tak seramai Surabaya.              Jika Pekalongan adalah manusia, ia pasti sedang menikmati hari, sembari mengeluh perihal kehidupan yang biasa-biasa saja. Perihal ekspektasi tinggi yang ia buat untuknya sendiri. Perihal langkahnya yang berat namun pasti tetap berjalan.             Barangkali aku adalah Pekalongan,             Barangkali kamu adalah Pekalongan,             Barangkali Kita adalah Pekalongan,             Barangkali, kita adalah jalan Kartin...