AKU [juga] Ingin Jadi Seperti tanah.

"Aku mau jadi tanah!"

            Aku menengok kanan dan kiri, aman, tidak ada orang, sebab kalau orang lain dengar ia bisa bisa di ledek "hah? Mau jadi tanah? Apa istimewanya hamparan luas yang terinjak dan teronggok?". Maka selanjutnya aku merendahkan diri mengikuti tubuh sang mudi.

            "Kenapa tanah?" Tanyaku pada akhirnya. Sang gadis cilik bergeming. Barangkali menimang alasan dirinya ingin menjadi tanah. Maksudku kan, kalau mau jadi hebat, masih ada langit dan gunung yang jelas jadi imajinasi 'hebat' paling depan.

                "Dia kuat dipijak milyaran manusia, dia kokoh dan nggak pernah mengeluh, hebat."

            Sesuai dugaan, sepertinya aku harus senang sebab masih diberi sudut pandang polos kekanak-kanakkan. Baru ingin ku tanya mengapa tak ingin jadi matahari yang jelas jadi sorotan semua manusia, atau bintang yang berkilau di antara gelap milik malam. Tapi dia lebih dulu berkata—

            "Aku nggak suka jadi langit, dia jauh diatas sana" tangan mungilnya menunjuk hamparan langit diatas sana. 

            "tapi nggak bisa merengkuh siapa-siapa"

            Tangannya kini menunjuk hamparan luas di bawahnya. "Kalau jadi bumi, aku bisa tabah menasehati, tak jadi sorotan namun kerap ada di sisi."

            Kini, giliran aku yang berhenti. Lalu memahami dan mengerti bahwa sudut pandangnya jauh dari apa yang terlihat dari kisi.

            "Aku mau jadi tanah, aku mau jadi bumi, Yang jadi alasan mengapa manusia harus tegap berdiri, tanah mendengar dan menguatkan banyak hal meskipun tanah tidak melindungi dari hantaman kak, aku mau jadi tanah yang meskipun tidak siap dalam pertarungan, tapi bisa dijadikan tempat ternyaman mendengar manusia menaruh doa dan keluh pada tuhan."

            Perlahan sang mudi tersenyum di akhir perkataan, dan figurnya memudar sejalan dengan tangan yang menutup lembar terakhir dari buku harian usang dari laci kamarku.

-saturnells

Ditulis sebab sang manusia sedang lupa menghargai dirinya sendiri, sebab ia tak bisa mengerti apalagi mempercayai dirinya sendiri. SEHAT SEHAT yang membaca sampai sini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.

Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.

[J;01] Perihal kata ‘pertama’ dan mendebarkannya