Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.

 


Aku mungkin sudah pernah bercerita tentang Bara dan hangatnya. Orang-orang melihat Bara sebagai peramai suasana, pembawa ceria untuk orang disekitarnya. Bara banyak disenangi sebab ramahnya.

Tapi Bara juga manusia. Cukup manusia untuk merasa sedih, lelah dan membutuhkan rehat Barang sehari saja. Sayangnya, Bara bukan tipikal orang yang mudah mengekspresikan kesedihannya. Beberapa orang juga begitu. Tidak sanggup memperlihatkan lemahnya pada dunia, hanya ingin orang tahu bahwa ia baik-baik saja.

Malam itu, Bara menelponku, suaranya bergetar meski masih sempat tertawa-tawa.

“Kamu dimana?” tanyanya dari seberang.

“Dirumah, kenapa?”

“Bisa ketemu?”

“Bisa, mau dimana?”

“Oke sebentar, aku jemput ya.”

Sepuluh menit setelahnya, Bara datang dengan Rosi-motor kesayangannya, izin kepada ibu dan abah sebelum mengajakku berkeliling entah kemana. Dan segera, aku berada di boncengan Bara, tidak bertanya apa-apa sebab Bara juga tidak mengeluarkan suaranya.

Malam itu, aku tahu ada dua kondisi dimana Bara tidak banyak bicara. Pertama saat makan, ia pernah bilang, Bunda menasehati bahwa itu tidak sopan. Kedua ketika banyak yang ia pikirkan. Bara tidak pernah menjelaskan soal ini, tapi aku bisa lihat hanya dengan memperhatikan.

Motornya berhenti pada salah satu warung di simpang tiga, tempatnya biasa berkumpul dengan temannya. Aku bisa melihat Gavi dan Hegar yang tengah tertawa di dalam sana. Bara menoleh, bertanya apakah aku ingin masuk atau menunggu di luar saja.

“Memangnya kamu nggak lama?”

Bara menggeleng. Maka aku memutuskan untuk menunggu di atas motornya, melihat punggung Bara yang bergerak menjauh untuk masuk dan menyapa sejenak kawannya, tersenyum sebelum menunjukku dan kembali ke pintu depan. Ia tersenyum saat jarak kita tersisa tiga jengkal.

“Maaf ya”

“Ha? Maaf untuk apa?”

“Aku jadiin kamu sebagai alasan”

Aku yang masih kebingungan menunggu Bara melanjutkan kalimatnya. Ia menggenggam tanganku sebelum berujar

“Aku cuma butuh tenang malam ini, mereka bakal bingung kalau aku tiba-tiba absen dengan alasan mau sendiri. Jadi, aku bawa kamu-”

“Enggak apa-apa”

“Maaf”

“Bara, aku bilang nggak apa-apa. Ayo, kamu mau kemana?”

Jemarinya mengusak suraiku gemas sembari tertawa. Manis.

Bara memakai helmnya lagi, kembali siap membelah jalan raya, sudah tiga puluh menit tapi kami tidak berhenti dimana-mana. Barangkali, Bara hanya perlu berkeliling untuk melihat kita yang baik-baik saja. Barangkali ia perlu tahu kalau kesedihannya tidak melukai siapa-siapa. Dan aku berterimakasih pada salah satu lampu merah kota yang berdiam cukup lama, aku mengambil kesempatan untuk mengeratkan dekapku pada pinggangnya.

Bara menepuk-nepuk telapakku. Ia sempat menoleh dan bertanya apa kantuk sudah menyerangku. Lampu hijau berpendar dan Bara menghentikan Rosi seratus meter di depan. Pada sebuah terpal biru oranye sederhana. Pada sebuah kedai makanan kaki lima

“Enggak masalah kan makan disini aja?”

Aku mengangguk, mengikuti langkah Bara yang mengajakku duduk di lesehan. Terpal itu, dilakban dimana-mana. Aku yakin kalau kalau hujan tiba orang-orang dibawahnya pasti terkena percikan air hujan sesekali. Ada banyak tambalan yang digunakan untuk menutupi celanya.

Barangkali layaknya Bara, ada banyak plester padanya yang tidak terlihat untuk menutup luka-lukanya. Untuk membuatnya tidak nampak dari orang-orang disekitarnya. Untuk membuatnya terlihat baik-baik saja.

“Bara” 

Aku memanggilnya. Usai memesan makanan, Bara bergegas bergabung denganku di sebelah kiri. Figur lelahnya menoleh, berdehem dua kali. Aku menepuk pundaknya, Bara menatapku heran

“Kenapa?”

“Mau peluk?”

Ia tertawa dulu, kaget dengan tawaranku yang mendadak “di…sini?”

“... ya dimana lagi?”

Bara mendekatkan tubuhnya, berbisik jahil “Nanti bapak penjualnya iri”

“Ih mana ada begitu?”

“Ada, aku bisa baca perasaan orang tau” katanya lagi dengan nada bercanda.

“Bara”

“Hm?”

“Capek itu enggak apa-apa”

Bara masih tak bergeming, jadi aku meraih perlahan kepala penuhnya untuk bersandar di pundakku “....Dan nggak apa-apa buat nunjukin ke dunia kalau kamu masih sedih, karena after all kita manusia yang punya perasaan”

Sementara Bara masih setia dengan kediamannya, aku menepuk pelan punggung Bara yang bergetar perlahan. Seorang pemuda yang ku kenal paling tangguh sedang menjumpai kerapuhan. Sedang luruh dan butuh dikuatkan. Dan disaat seperti ini, aku berharap kebaikannya tak lupa jalan pulang.

“Maaf… Maaf kukira lelahku bukan apa-apa. Nggak sebanding sama lelah orang-orang diluar sana, jadi aku nggak ngerasa harus menunjukannya, tapi justru… nyembunyikan kesedihan buat aku semakin tertekan. Semakin kelelahan”

Malam itu Bara akhirnya bersuara, mengeluarkan beban jauh dalam kepalanya. Membuka beberapa plester yang menutupi cela dan lukanya. Membiarkannya ditenangkan keadaan, membiarkan segalanya damai dan keterbukaan.

“Jangan terlalu keras sama diri sendiri ya?”

Ia mengangguk pelan sambil tersenyum manis sebelum kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Terima kasih”

“Kan kamu yang lebih banyak bantu aku”

Bara menganggukkan kepalanya sembari berdehem “sebentar lagi ya?” katanya

“Padahal, lama juga enggak apa-apa” alih-alih tersipu, pemuda itu justru menjauhkan diri dan menatapku

“Siapa yang ajarin gitu?”

“Kamu?” kataku terkekeh

Bara mengusak suraiku untuk yang kedua kali, senyumnya kembali. “Aku nggak bohong waktu aku bilang penjualnya iri."

—saturnells

Maaf aq mabok Bara dan dunianya .ditulisnya sambil dengar I Like Me Better- Lauv



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.

[J;01] Perihal kata ‘pertama’ dan mendebarkannya