Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.
Maka, kujawab dengan sederhana. Jika Pekalongan berwujud manusia, maka mungkin ia adalah yang paling banyak diam dibanding Jakarta yang jadi pusat semesta. Dia biasa saja, tak seistimewa Yogyakarta, dan tak seramai Surabaya. Jika Pekalongan adalah manusia, ia pasti sedang menikmati hari, sembari mengeluh perihal kehidupan yang biasa-biasa saja. Perihal ekspektasi tinggi yang ia buat untuknya sendiri. Perihal langkahnya yang berat namun pasti tetap berjalan. Barangkali aku adalah Pekalongan, Barangkali kamu adalah Pekalongan, Barangkali Kita adalah Pekalongan, Barangkali, kita adalah jalan Kartin...