Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.
Aku mungkin sudah pernah bercerita tentang Bara dan hangatnya. Orang-orang melihat Bara sebagai peramai suasana, pembawa ceria untuk orang disekitarnya. Bara banyak disenangi sebab ramahnya. Tapi Bara juga manusia. Cukup manusia untuk merasa sedih, lelah dan membutuhkan rehat Barang sehari saja. Sayangnya, Bara bukan tipikal orang yang mudah mengekspresikan kesedihannya. Beberapa orang juga begitu. Tidak sanggup memperlihatkan lemahnya pada dunia, hanya ingin orang tahu bahwa ia baik-baik saja. Malam itu, Bara menelponku, suaranya bergetar meski masih sempat tertawa-tawa. “Kamu dimana?” tanyanya dari seberang. “Dirumah, kenapa?” “Bisa ketemu?” “Bisa, mau dimana?” “Oke sebentar, aku jemput ya.” Sepuluh menit setelahnya, Bara datang dengan Rosi- motor kesayangannya, izin kepada ibu dan abah sebelum mengajakku berkeliling entah kemana. Dan segera, aku berada di boncengan Bara, tidak bertanya apa-apa sebab Bara juga tidak mengeluarkan suaranya. Malam itu, aku tahu ada dua kondisi di...