[J;01] Perihal kata ‘pertama’ dan mendebarkannya

Pada hidup seorang manusia, dibutuhkan beberapa bagian dimana hari terasa begitu mendebarkan. Sehingga manusia bisa merasakan ada beberapa bagian yang ikut yang hidup di dalam dirinya. Seperti halnya dengan kata pertama yang bagi beberapa manusia akan terasa mendebarkan. Gadis itu baru tiba di tempat kerja barunya dengan dada yang bergemuruh sejak awal. Ini adalah hari pertamanya. Maka kata mendebarkan terasa melekat erat pada nadinya.

Hal yang pertama dilihat adalah sosok pemuda yang terlihat bisa mengangkat beban dunia di pundaknya tanpa mengeluh. Sosoknya besar, tegap, dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara terlalu serius atau sekadar malas berurusan dengan dunia. duduk di meja pojok dekat jendela, mengetik tanpa ragu seolah waktu tunduk padanya, punggungnya membungkuk sedikit, jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang tak terputus. Di sampingnya, segelas kopi dalam gelas kertas telah lama kehilangan uapnya—menjadi dingin seperti pagi yang enggan terburu-buru.

Gadis itu mengedarkan pandangan, menghafal sudut-sudut ruangan, membiarkan aroma kertas dan tinta menelusup di antara napasnya. Maka yang dilakukan setelahnya adalah melangkah mendekati kursi di pojok dekat jendela, menarik bibir dengan tulusdan memberanikan diri menyapa

“permisi,” Pemuda itu mengangkat kepala, menatapnya tanpa ekspresi yang jelas.

“Saya karyawan baru di sini,” lanjutnya, berusaha terdengar percaya diri meskipun jantungnya masih berdebar. “Nama saya—”

Sejenak ia ragu. Namun, ia tetap melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

“—Sekar.”

Pemuda itu mengamati wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Janu.” Hanya itu. Singkat, padat.

Gadis itu menunggu, berharap ada sedikit tambahan respons. Namun, yang didapatinya hanyalah Janu kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya seolah perkenalan tadi hanyalah jeda sekejap dalam kesibukan.

Ia menimbang-nimbang, apakah harus mencoba berbicara lagi? Namun, suasana di antara mereka terasa seperti dinding tipis yang tak kasatmata—tidak kasar, tetapi juga tak memberi celah untuk ditembus.

Akhirnya, ia menghela napas perlahan, memilih untuk tidak memaksa.

Gadis itu tersenyum kecil. Setidaknya, ia sudah mencoba.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.

Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.