Paru-paru Dalam Saku
Bara. Seperti namanya, Menggebu dan terus bersemangat. Berapi-api menghidupkan segala yang dirasa sepi. Jadi yang paling menyala di gelapnya malam, atau jadi yang paling hangat dikala dingin menerpa.
Bara itu paham betul pasal-pasal yang ada pada dirinya. Ia takkan membiarkan hangatnya membakar, atau ramainya jadi hingar-bingar.
Bara itu, cukup. Tidak kurang dan tidak lebih.
Malam ini, aku putuskan untuk izin mengambil sedikit hangat yang dia punya, menyimpannya di ruas-ruas lengan kiri kanan ku, membiarkannya melebur menjadi dekap.
Telapaknya sesekali menepuk punggung, atau mengusap surai sepanjang bahuku.
"Enggak apa-apa" ulangnya
Kata-katanya yang berulang ku biarkan memasuki telingaku. Ia ramai, sudah ku bilang, tapi tidak mencipta hingar-bingar. Aku diam saja, menyiapkan telinga kembali untuk kata-katanya yang sudah seperti mantra penenang untukku.
"Nggak semua hal perlu sebab-akibat."
Rangkaian katanya muncul usai duduk di sisiku. Aku masih menunggu kelanjutannya dengan menatap lampu-lampu temaram kota yang kian meredup, menjumpai titik lelahnya.
"Beberapa hal bisa berdiri sendiri" katanya lagi.
"Menjadi definisi. Menjadi penjelasan yang pasti tanpa hal yang mempengaruhi"
Aku terdiam lagi. Memutar ulang tentang bagaimana kejadian di belakang. Paru-paru ku sesak bagai dimasukkan dalam saku celana mengingat apa-apa yang dikerjakan tak sama sekali mendapat perhatian. Bahkan Tidak ada yang mengatakan 'terima kasih sudah sejauh ini' atau 'kamu hebat, kuat, karena berhasil dan tidak terjerat'.
Dan Bara bilang, tidak semua berupa sebab-akibat. Katanya, beberapa hal bisa berdiri sendiri, menjadi definisi dan penjelasan pasti.
Begitu pula Aku, katanya.
"Aku juga dulu sama, mempertanyakan kemana validasi yang seharusnya aku terima."
Bara tertawa. Aku katakan Bara sangat manis jika tertawa.
"Tapi buat apa? Aku tahu aku berharga dengan atau tanpa validasi mereka."
"Aku yang paling tahu kalau aku adalah Bara. Kalau aku sudah cukup menjadi hangat dan ramai. Nggak perlu membuat yang lain kebisingan atau kepanasan.
Aku yang paling tahu siapa Bara kan?"
Aku mengangguk, lantas bara mengusik suraiku yang kehitaman "Maka kamu juga, Dengan atau tanpa, kamu sudah sangat berharga"
"Dengan atau tanpa ya bar?" Racauku
"Iya, dengan atau tanpa. Awalnya, paru-parumu akan terasa sesak seperti dalam saku celana, tapi lama-lama saku celana jadi bukan apa-apa"
Bara tersenyum sekali lagi, tubuh tegapnya ia sandarkan pada bangku kayu yang kita duduki. Bangku yang terlihat rapuh, tapi bisa berdiri sendiri dengan utuh, tanpa meruntuh.
Persis dengan yang dikatakan Bara, berharga.
"Karena, pada akhirnya hanya kita yang tahu siapa diri kita. Terlepas dengan atau tanpa"
Genggamannya di tanganku menghangat. Bara berdiri, menuntunku menuju Rosi–sepeda motornya yang terparkir di sebelah kios bakso milik bang asep.
"Motor yang hebat, siap meluncur mengantar perempuan yang kuat"
Aku meninju lengan kirinya. Bara tertawa, bahagia nampaknya.
"Jadi, mau pulang ? Atau mau diulang dari awal? Dari adegan pelukan?"
—Saturnells
![]() |
| Visualisasi Bara dalam kepala saya. Yaampun, saya hampir gila nulisnya sambil dengar lagu Sempurna. |


Komentar
Posting Komentar