Sebab kamu sering bertanya, perihal bagaimana jika Pekalongan jadi Manusia.


 Maka, kujawab dengan sederhana.

            Jika Pekalongan berwujud manusia, maka mungkin ia adalah yang paling banyak diam dibanding Jakarta yang jadi pusat semesta. Dia biasa saja, tak seistimewa Yogyakarta, dan tak seramai Surabaya. 

            Jika Pekalongan adalah manusia, ia pasti sedang menikmati hari, sembari mengeluh perihal kehidupan yang biasa-biasa saja. Perihal ekspektasi tinggi yang ia buat untuknya sendiri. Perihal langkahnya yang berat namun pasti tetap berjalan.

            Barangkali aku adalah Pekalongan,

            Barangkali kamu adalah Pekalongan,

            Barangkali Kita adalah Pekalongan,

            Barangkali, kita adalah jalan Kartini yang menerima roda buru-buru di atas badannya. Atau museum batik yang dipandang sebagai tempat wisata, namun banyak sejarah dibaliknya. Atau simpang lima, dengan putarannya hendak menanyakan kemana kita sejatinya?

            Barangkali, kita adalah sedikit keramaian itu, yang sering kesepian di penghujung malam, dan mereka tidak tahu.

—saturnells

 


Komentar

  1. Barangkali saya Pekalongan
    Betapa berkuasanya saya, yang terus mengikis daratan-daratan pesisir. Entah sampai kapan akan bertahan, tanpa henti menenggelamkan hingga akhirnya hilang. Semua itu bukan murni karena saya, Lihatlah betapa tak berdosanya mereka merusak, mengotori, dan tiada henti menodai.

    Bersambung

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab Pada Akhirnya, Kita Manusia.

[J;01] Perihal kata ‘pertama’ dan mendebarkannya